Minggu, 28 Maret 2010

KONSELOR: ANTARA PRIBADI DAN KONSELI
Di buat oleh : JOKO WASKITO

Tulisan ini di buat hanya sekedar untuk menambah wawasan kita saja,adapun kekurangan mengenai tulisan ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan atas itu pula penulis mohon saran dan kritik para pembaca budiman.
Bimbingan dan Konseling,ya sebuah studi yang sedang saya tempuh saat ini yang mana memang studi ini adalah salah satu hal yang saya sukai karena saya sEndiri adalah seorang yang menyukai sesuatu hal yang berkaitan dengan memahami,mengenal,dan mengamati pribadi seseorang
Konselor, ya mungkin sebuah sebutan yang tak asing lagi bagi para murid.Seseorang yang memiliki tugas untuk membantu menangani para siswa atau klien untuk memecahkan problem dalam diri mereka dan atau membantu klien / siswa untuk dapat menemukan jati diri nya sendiri.
Namun entah mengapa timbul dalam benak saya pertanyaan kenapa kami (konselor) ketika kami berusaha untuk membantu konseli memecahkan permasalahan nya, kami (konselor) mudah sekali untuk memberikan semacam nasehat dan jalan keluar?? Tetapi ketika pribadi konselor itu sendiri sedang menghadapi permasalahan nya, terkadang kami sendiri kewalahan untuk memecahkan nya bahkan terkadang para konselor itu pun lupa dengan nasehat atau masukan-masukan yang pernah diberikan kepada konselinya ketika mereka sedang berkonsultasi dengan konselor,,
Yaaa,,,buat saya itu hal yang belum bias saya pecahkan sendiri.Apa sebenarnya yang perlu kami ( lakukan ) agar kami bias menyeimbangkan antar PRIBADI DAN KONSELI,,,sehingga keprofesionalan kami sebagai seorang konselor benar-benar bias di praktekkan sedemikian rupa baik dalam kami menjalankan tugas kami ataupun dalam kami berusaha untuk memecahkan permasalahan kami sendiri.
Pembaca yang budiman, penulis berharap pembaca dapat menyempatkan sedikit waktu untuk memberikan masukan atas tulisan ini.

Minggu, 21 Maret 2010

PENGEMBANGAN PRIBADI HOLISTIK “Knowing Your Inner Self”


Written by Rani Anggraeni Dewi, M.A

Sepanjang sejarah umat manusia, saya yakin ada saja orang-orang yang mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya tentang siapa aku? Apa tujuan hidupku? Kemana aku pergi setelah mati? Mengapa aku seperti ini?

Pertanyaan eksistensial di atas menurut pengalaman saya pribadi, selama ini muncul ketika orang merenungkan dirinya, hidupnya, atau nasibnya sebagai akibat dari persoalan-persoalan yang dialaminya. Persoalan yang muncul sangat beragam karena persoalan manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang beragam pula. Terutama belakangan ini kehidupan semakin kompleks dengan terbukanya dunia sebagai hasil dari kemajuan teknologi yang pesat. Tentu kemajuan ini menimbulkan dampak yang positif, tetapi juga negatif bagi manusia.

Tatkala seorang manusia sampai pada titik jenuh ia mulai mempertanyakan keberadaannya, alam semesta, bahkan Tuhannya. Seolah-olah ada pencerahan untuk mencari tahu tentang dirinya, dan ada rasa rindu di dada untuk menemukan jawabannya. Dalam situasi demikian, biasanya timbul perasaan cemas, gelisah, takut, sikap marah-marah, tidak puas, dan protes terhadap keadaan. Setiap orang tentunya memiliki sikap yang berbeda, ada yang bersikap re-aktif, tetapi ada juga yang pro-aktif, dan apa yang terjadi bila kemudian timbul sikap destruktif. Tetapi tidak jarang pula lalu mereka mempelajari agama dan menjalankan ibadah ritual dengan taat serta patuh mengikuti ajarannya hingga menjadi solusi untuk mengatasi persoalannya.

Sebagai manusia yang beriman tentunya manusia diharapkan memilih jalan pro- aktif, sebagai jalan yang menguntungkan bagi pengembangan pribadi ke arah perbaikan akhlak dan sebagai proses mencapai pribadi yang didambakan. Berkaitan dengan pandangan tersebut di atas, maka saya menyusun program pelatihan dan konseling bagi orang dewasa, bagi siapa saja yang merasa membutuhkan (lintas agama, lintas etnis, dan budaya; tanpa mengutamakan gelar akademik dan non-sektarian).

Pelatihan dan konseling adalah sejenis psycho edukatif yang dalam konteks pemikiran ini merupakan model pengembangan pribadi holistik, yang memadukan pandangan Psikologi Humanistik dan Ilmu Tasawuf yang menekankan pada penyucian jiwa (Tazkiyyat al-Nafs).

TUJUAN PELATIHAN DAN KONSELING

Pertama, memberikan pandangan mengenai betapa pentingnya “mengenal diri” atas dasar pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap persoalan-persoalan hidup yang terjadi selama ini di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, khususnya melalui kasus-kasus yang diungkapkan para peserta pelatihan dan konseling dan memberikan cara-cara yang lebih efektif untuk mendidik diri ke arah yang lebih baik dan mengembangkan diri ke arah pribadi yang didambakan. Kedua, menanamkan nilai betapa pentingnya kebutuhan Self Improvement agar seseorang semakin mengenal dirinya sehingga menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental manusia seperti misalnya; “Siapa saya?”, “Kenapa saya ada di sini?”, “Apa tujuan hidup saya?”, “Bagaimana agar saya bermanfaat bagi lingkungan?”, “Bagaimana menjadi orang yang bahagia?”, “Apakah saya dapat berubah?”, dan “Bagaimana hubunganku dengan Tuhan?”. Ketiga, untuk membantu menemukan pengetahuan tentang hakikat diri. Lebih jauh lagi siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya (Hadits). Keempat, memberikan cara-cara berkomunikasi secara cerdas dan meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi. Kelima, mampu menghadapi dan mengatasi masalah hidup dengan menggunakan kecerdasan intelektual, emosional, dan spriritual.

PROSES PELAKSANAAN:

Tahap ASUH (tingkat Knowledge):
Tahap Asuh merupakan tingkat dasar, diberikan wawasan tentang eksistensi manusia dalam pandangan Psikologi Humanistik dan Tasawuf Al-Qur‘an, juga berkaitan dengan kualitas manusia misalnya potensi manusia, jenjang kebutuhan manusia, serta tingkat kesadaran jiwa.

Tahap ASAH (tingkat Knowhow):
Tahap Asah merupakan tingkat lanjutan, diberikan cara-cara menghadapi dan mengatasi masalah hidup melalui pembahasan kasus nyata dan dilakukan konseling kelompok atau konseling pribadi bila diperlukan.

Tahap ASIH (proses Internalisasi):
Sinerji antara knowledge dan knowhow melalui kegiatan tadabur alam dan tafakur, yang merupakan pengenalan pada kegiatan khalwat (jalan sufi).

METODE PELAKSANAAN:
Metode Andragogi (adult learning) dengan menggunakan kegiatan berbagi pengalaman, diskusi, simulasi, inventori, games, ceramah singkat, kontemplasi, refleksi, dan meditasi serta jurnal pribadi.

Demikian uraian tahap program pelatihan dan konseling yang merupakan kontribusi penulis sekiranya dapat menjadi alternatif metode pengembangan pribadi yang bersifat realistis dan ilmiah tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual.